Apakah Anda pernah mengalami yang namanya mental breakdown atau emotional breakdown, dimana Anda hampir tidak bisa menghadapi keadaan yang Anda alami saat itu? Saya pun baru mengalaminya kembali minggu lalu. Benar-benar pengalaman yang tidak menyenangkan, saya ingat sekali saya mencoba menahan rasa marah dan kecewa saya sampai saya tidak bisa bernafas. Saya ingat, dada saya rasanya seperti ditusuk-tusuk dan saya sangat kesulitan untuk bernafas, sampai saya harus dibawa ke rumah sakit. Sangat memalukan. Padahal saya sudah mencoba untuk bernafas tenang sebelumnya dan mencoba untuk tidak membuat situasi mengatur emosi saya. Lucunya, akan selalu ada situasi baru yang akan terus menguji mental dan emosi kita.
Uji mental & emosi
Dalam sehari-hari, pasti kita akan selalu diuji dari masalah mental dan emosi, terlebih jika Anda tinggal di Indonesia yang sehari-harinya menemui kemacetan lalu lintas, panas, hujan, banjir, polusi, orang marah-marah, dan lain sebagainya. Anda bisa langsung stres ketika kena macet dan sudah terlambat, marah ketika ada orang yang menyerempet mobil Anda dan kecewa ketika tidak mendapatkan promosi di kantor. Tetapi jika Anda sudah bisa mengatasi hal-hal tersebut, Anda akan terus mendapatkan tantangan baru dan sangat normal bila Anda tidak selalu bisa mengatasi tantangan-tantangan tersebut. Namanya juga ujian. Kadang Anda dapat nilai bagus, kadang tidak. Tetapi enaknya, ujian ini akan selalu ada dan Anda bisa mendapatkan nilai yang lebih bagus di kesempatan berikutnya bila Anda belajar dari tantangan sebelumnya.
Mengapa kita mengalami breakdown?
Saya termasuk salah satu orang yang emosional dan menurut saya ini salah satu sebab saya mengalami breakdown. Ketika Anda merasakan suatu emosi yang sangat kuat mau itu adalah rasa sakit, marah, sedih, stres, letih, sakit hati maupun benci, Anda sebenarnya tengah meningkatkan tegangan yang bersifat negatif dalam diri Anda. Saya mengerti bahwa merasakan hal-hal ini adalah normal sebagai manusia, walaupun biasanya breakdown akan terjadi karena Anda sudah mengumpulkan rasa ini dan membendungnya di dalam pikiran Anda. Suatu saat akan terjadi stimulus dimana Anda akan merasa dipojokkan seperti tidak ada yang mengerti perasaan Anda dan Anda harus melewatinya seorang diri. Ini yang akan menyebabkan breakdown, mau itu Anda menjadi sangat marah, menangis sekeras-kerasnya, pingsan ataupun terbawa dalam penyakit fisik.
Saya belajar banyak dari peristiwa ini karena ini membuat saya benar-benar memilah-milah siapa dan apa yang menyebabkan saya merasa marah, sedih, benci, dll. Saya pun sampai menuliskannya orang-orang, situasi dan hal-hal apa yang bisa menyebabkan saya memiliki emosi yang negatif dan kemudian menanyakan mengapa hal-hal tersebut bisa memberikan saya rasa yang negatif. Hanya dengan memahami, mengakui, mengatasi dan melepaskan hal-hal tersebut saya bisa mencegah breakdown selanjutnya.
Apasih sebenarnya breakdown itu?
Menurut saya, breakdown itu hanya sebuah ketidakmampuan diri kita untuk menangani kekuatan-kekuatan eksternal. Bayangkan seperti bendungan yang tidak mampu menahan airnya dan kemudian ia hancur, seperti tembok yang sudah tua pun bisa hancur, seperti meja kaca yang dipukul pun bisa pecah. Semua memiliki breaking point, hanya Anda sendiri yang bisa menetapkan dan membentuk titik kehancuran ini. Apakah Anda ingin menjadi gelas kaca atau besi baja?
Walaupun sebenarnya breakdown terlihat sebagai suatu hal yang negatif, Anda harus selalu mengigat bahwa dibalik sebuah kenegatifan akan selalu ada hal-hal yang positif. Ini hanya sebuah ketidakmampuan sementara, dengan proses pembelajaran, Anda pasti mampu. Sebenarnya, dengan mengalami breakdown, ini adalah kesempatan untuk Anda untuk merenovasi diri Anda agar menjadi lebih kuat dikemudian hari.
Contohnya jika rumah Anda kali ini rubuh terkena gempa, Anda bisa memilih untuk membiarkannya saja dan menangisi nasib Anda atau Anda bisa mencoba membangun kembali dengan rencana bagaimana membuatnya lebih kuat dan lebih baik dari sebelumnya. Enaknya, Anda tidak membutuhkan uang seperserpun untuk melakukan proses renovasi ini.
Tips mencegah dan mengatasi breakdown
1. Ketahui dan akui hal-hal yang telah merubuhkan Anda sebelumnya. Tanyakan apa alasannya dan akuilah bahwa ”saya tidak cukup kuat saat itu”. Jangan menyalahkan situasi, hal atau orang tersebut. Ini adalah ketidakmampuan Anda dan ini adalah hal yang biasa dan normal. Ingat bahwa Anda tidak sendiri, banyak orang lain pun yang mengalami hal yang sama. Ini hanya sebuah proses untuk menjadi diri yang lebih baik.
2. Ketahui dan akui breaking point Anda, yaitu hal-hal, situasi atau orang lain yang dapat membuat Anda merasakan hal-hal yang negatif seperti marah, sedih, kecewa, dll. Lalu lanjutkan dengan menanyakan diri Anda, hal-hal apa yang bisa Anda syukuri atas hal tersebut dan lakukan untuk mengatasi hal-hal tersebut. Contoh:
ÿ Saya sangat tidak suka pada rekan kerja saya si A, karena menurut saya dia sangat arogan, cenderung merendahkan dan memanipulasi orang lain.
ÿ Walaupun seperti itu, saya bersyukur karena telah mengenal A dan harus bekerjasama dengan dia, karena Ia mengajarkan saya untuk selalu rendah hati, jujur dan memiliki rasa hormat yang tinggi kepada orang lain. Ia juga mengajarkan saya untuk lebih kuat dan tidak terganggu oleh orang-orang yang memiliki kepribadian yang negatif.
ÿ Setiap saya bertemu A, saya akan selalu tersenyum. Saya tidak akan banyak berinteraksi dengannya, cukup agar hubungan profesional saya terjaga. Apapun yang ia katakan yang bersifat negatif akan cukup masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri dan saya akan langsung memindahkan diri saya dari situasi tersebut, selalu dengan senyum dan tanpa pikiran negatif.
3. Buatlah segala situasi negatif seperti sebuah lelucon dan kembalikanlah ke hal, situasi atau orang tersebut. Contoh:
ÿ A yang sangat arogan dan cenderung merendahkan orang lain: Si A itu lucu sekali ya, lagi-lagi Ia merendahkan orang lain, kasian ya, secara tidak sadar ia merendahkan dirinya sendiri
ÿ Suami saya selingkuh: Ah, suamiku itu memang unik, ternyata dia memang tidak menginginkan yang terbaik, malah memilih yang kurang berkualitas. Kalau memang itu pilihannya, berarti lebih baik untuk saya kan. Untung deh dia selingkuh, saya jadi tahu kepribadiannya yang sebenarnya.
ÿ Saya baru mengalamai kecelakaan mobil: Lucu sekali hari itu, tidak ada apa-apa bisa tabrakan, walaupun mobil saya hancur, saya sangat beruntung tidak mengalami luka yang parah. Yang paling parah hanya kuku yang patah, hahahaha.
Popularity: 10% [?]