Langkah Menuju Sukses

September 13th, 2008 by aristiwidya

“An aim in life is the only fortune worth finding, and it is not to be found in foreign
lands, but in the heart itself.”
– Robert Louis Stevenson

“When you get right down to the root of the meaning of the word ’succeed’,
you find it simply means to follow through.”
- F.W. Nichol

Banyak jalan menuju Roma. Hanya saja, masih banyak yang tidak tahu apa itu Roma dan dimana letaknya. Melalui jalan atau transportasi apa saja bisa menuju Roma. Kadang hanya bermimpi tentang Roma, tetapi tidak pernah benar-benar merencanakannya karena berbagai alasan karena tidak adanya waktu, sudah ada komitmen sebelumnya, tidak mempunyai teman untuk menemani sampai keuangan yang tidak cukup. Bila tidak mendapatkan transportasi atau jalur yang diinginkan kemudian menyerah. Banyak pula yang berhenti di tengah jalan dan tidak melanjutkannya (walaupun dengan adanya pesawat terbang, ini semakin sedikit terjadi :p ). Dan tentu saja, banyak jalan menuju kesuksesan, tetapi kenyataannya masih banyak sekali alasan yang menghambat kita mencapainya.

Dengan ide tersebut, melalui berbagai percobaan saya telah merangkum 12 langkah untuk mendapatkan kesuksesan dalam kehidupan Anda, baik dalam kehidupan spiritual, fisik, keuangan maupun kesehatan. Anda sendiri yang bisa menentukan. Read the rest of this entry »

Popularity: 30% [?]

Breaking Down

September 25th, 2007 by aristiwidya

Apakah Anda pernah mengalami yang namanya mental breakdown atau emotional breakdown, dimana Anda hampir tidak bisa menghadapi keadaan yang Anda alami saat itu? Saya pun baru mengalaminya kembali minggu lalu. Benar-benar pengalaman yang tidak menyenangkan, saya ingat sekali saya mencoba menahan rasa marah dan kecewa saya sampai saya tidak bisa bernafas. Saya ingat, dada saya rasanya seperti ditusuk-tusuk dan saya sangat kesulitan untuk bernafas, sampai saya harus dibawa ke rumah sakit. Sangat memalukan. Padahal saya sudah mencoba untuk bernafas tenang sebelumnya dan mencoba untuk tidak membuat situasi mengatur emosi saya. Lucunya, akan selalu ada situasi baru yang akan terus menguji mental dan emosi kita.

Uji mental & emosi 

Dalam sehari-hari, pasti kita akan selalu diuji dari masalah mental dan emosi, terlebih jika Anda tinggal di Indonesia yang sehari-harinya menemui kemacetan lalu lintas, panas, hujan, banjir, polusi, orang marah-marah, dan lain sebagainya. Anda bisa langsung stres ketika kena macet dan sudah terlambat, marah ketika ada orang yang menyerempet mobil Anda dan kecewa ketika tidak mendapatkan promosi di kantor. Tetapi jika Anda sudah bisa mengatasi hal-hal tersebut, Anda akan terus mendapatkan tantangan baru dan sangat normal bila Anda tidak selalu bisa mengatasi tantangan-tantangan tersebut. Namanya juga ujian. Kadang Anda dapat nilai bagus, kadang tidak. Tetapi enaknya, ujian ini akan selalu ada dan Anda bisa mendapatkan nilai yang lebih bagus di kesempatan berikutnya bila Anda belajar dari tantangan sebelumnya.

Mengapa kita mengalami breakdown? 

Saya termasuk salah satu orang yang emosional dan menurut saya ini salah satu sebab saya mengalami breakdown. Ketika Anda merasakan suatu emosi yang sangat kuat mau itu adalah rasa sakit, marah, sedih, stres, letih, sakit hati maupun benci, Anda sebenarnya tengah meningkatkan tegangan yang bersifat negatif dalam diri Anda. Saya mengerti bahwa merasakan hal-hal ini adalah normal sebagai manusia, walaupun biasanya breakdown akan terjadi karena Anda sudah mengumpulkan rasa ini dan membendungnya di dalam pikiran Anda. Suatu saat akan terjadi stimulus dimana Anda akan merasa dipojokkan seperti tidak ada yang mengerti perasaan Anda dan Anda harus melewatinya seorang diri. Ini yang akan menyebabkan breakdown, mau itu Anda menjadi sangat marah, menangis sekeras-kerasnya, pingsan ataupun terbawa dalam penyakit fisik.

Saya belajar banyak dari peristiwa ini karena ini membuat saya benar-benar memilah-milah siapa dan apa yang menyebabkan saya merasa marah, sedih, benci, dll.  Saya pun sampai menuliskannya orang-orang, situasi dan hal-hal apa yang bisa menyebabkan saya memiliki emosi yang negatif dan kemudian menanyakan mengapa hal-hal tersebut bisa memberikan saya rasa yang negatif. Hanya dengan memahami, mengakui, mengatasi dan melepaskan hal-hal tersebut saya bisa mencegah breakdown selanjutnya. 

Apasih sebenarnya breakdown itu?

Menurut saya, breakdown itu hanya sebuah ketidakmampuan diri kita untuk menangani kekuatan-kekuatan eksternal.  Bayangkan seperti bendungan yang tidak mampu menahan airnya dan kemudian ia hancur, seperti tembok yang sudah tua pun bisa hancur, seperti meja kaca yang dipukul pun bisa pecah. Semua memiliki breaking point, hanya Anda sendiri yang bisa menetapkan dan membentuk titik kehancuran ini. Apakah Anda ingin menjadi gelas kaca atau besi baja? 

Walaupun sebenarnya breakdown terlihat sebagai suatu hal yang negatif, Anda harus selalu mengigat bahwa dibalik sebuah kenegatifan akan selalu ada hal-hal yang positif.  Ini hanya sebuah ketidakmampuan sementara, dengan proses pembelajaran, Anda pasti mampu.  Sebenarnya, dengan mengalami breakdown, ini adalah kesempatan untuk Anda untuk merenovasi diri Anda agar menjadi lebih kuat dikemudian hari.

Contohnya jika rumah Anda kali ini rubuh terkena gempa, Anda bisa memilih untuk membiarkannya saja dan menangisi nasib Anda atau Anda bisa mencoba membangun kembali dengan rencana bagaimana membuatnya lebih kuat dan lebih baik dari sebelumnya. Enaknya, Anda tidak membutuhkan uang seperserpun untuk melakukan proses renovasi ini.  

Tips mencegah dan mengatasi breakdown

1.       Ketahui dan akui hal-hal yang telah merubuhkan Anda sebelumnya. Tanyakan apa alasannya dan akuilah bahwa ”saya tidak cukup kuat saat itu”. Jangan menyalahkan situasi, hal atau orang tersebut. Ini adalah ketidakmampuan Anda dan ini adalah hal yang biasa dan normal. Ingat bahwa Anda tidak sendiri, banyak orang lain pun yang mengalami hal yang sama. Ini hanya sebuah proses untuk menjadi diri yang lebih baik.

2.       Ketahui dan akui breaking point Anda, yaitu hal-hal, situasi atau orang lain yang dapat membuat Anda merasakan hal-hal yang negatif seperti marah, sedih, kecewa, dll. Lalu lanjutkan dengan menanyakan diri Anda, hal-hal apa yang bisa Anda syukuri atas hal tersebut dan lakukan untuk mengatasi hal-hal tersebut. Contoh:

ÿ         Saya sangat tidak suka pada rekan kerja saya si A, karena menurut saya dia sangat arogan, cenderung merendahkan dan memanipulasi orang lain.

ÿ         Walaupun seperti itu, saya bersyukur karena telah mengenal A dan harus bekerjasama dengan dia, karena Ia mengajarkan saya untuk selalu rendah hati, jujur dan memiliki rasa hormat yang tinggi kepada orang lain. Ia juga mengajarkan saya untuk lebih kuat dan tidak terganggu oleh orang-orang yang memiliki kepribadian yang negatif.

ÿ         Setiap saya bertemu A, saya akan selalu tersenyum. Saya tidak akan banyak berinteraksi dengannya, cukup agar hubungan profesional saya terjaga. Apapun yang ia katakan yang bersifat negatif akan cukup masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri dan saya akan langsung memindahkan diri saya dari situasi tersebut, selalu dengan senyum dan tanpa pikiran negatif.

3.       Buatlah segala situasi negatif seperti sebuah lelucon dan kembalikanlah ke hal, situasi atau orang tersebut. Contoh:

ÿ         A yang sangat arogan dan cenderung merendahkan orang lain: Si A itu lucu sekali ya, lagi-lagi Ia merendahkan orang lain, kasian ya, secara tidak sadar ia merendahkan dirinya sendiri

ÿ         Suami saya selingkuh: Ah, suamiku itu memang unik, ternyata dia memang tidak menginginkan yang terbaik, malah memilih yang kurang berkualitas. Kalau memang itu pilihannya, berarti lebih baik untuk saya kan. Untung deh dia selingkuh, saya jadi tahu kepribadiannya yang sebenarnya.

ÿ         Saya baru mengalamai kecelakaan mobil: Lucu sekali hari itu, tidak ada apa-apa bisa tabrakan, walaupun mobil saya hancur, saya sangat beruntung tidak mengalami luka yang parah. Yang paling parah hanya kuku yang patah, hahahaha.

 

 

 

Popularity: 10% [?]

Mengapa Anda Bekerja?

August 11th, 2007 by aristiwidya

Coba jawab pertanyaan diatas, mengapa Anda bekerja? Jawabannya pasti beragam, tapi yang mana yang benar-benar jawaban dari hati nurani Anda?

  • Cari duit
  • Karena gak tau mau ngapain lagi
  • Untuk mencari pengalaman
  • Demi keluarga
  • Terpaksa
  • Karena saya suka apa yang saya lakukan
  • Kan baru slese kuliah
  • Untuk bertemu orang banyak
  • Untuk jadi orang kaya·
  • Dll.

Apakah Anda bekerja untuk mencari sesuatu atau karena Anda sudah memiliki sesuatu kemudian Anda bekerja? Apakah Anda hidup untuk bekerja atau bekerja untuk hidup? Apakah Anda bekerja untuk diri Anda sendiri atau orang lain? Apakah Anda mempunyai kontrol atas pekerjaan Anda atau Anda dikuasai oleh pekerjaan Anda? Apakah Anda memiliki pilihan atas pekerjaan Anda? Pheww, banyak pertanyaannya ya…

Bekerja sepertinya sudah mempunyai konotasi yang buruk, yang biasa dihubungkan dengan keterpaksaan, tanggung jawab yang besar, rutinitas dan beban. Contohnya, jika Anda bertanya kepada seseorang, “Kamu ngapain hari ini?” Jawabannya biasanya… ”Yah, gitu deh, biasa, gue mesti kerja.” Jarang ada yang menyatakannya dengan antusias dan energi positif. Lucu ya, padahal Anda sendiri yang memasukkan diri Anda ke situasi tersebut.

Lalu, boleh saya meminta Anda mengingat kembali apa jawaban Anda ketika Anda dulu ditanyakan dimana Anda ingin bekerja? Atau apa pekerjaan yang ideal untuk Anda? Kebanyakan jawaban untuk kata-kata pertama akan berfokus kepada tempat ataupun posisi, contohnya:

  • Saya mau kerja di Bank
  • Saya ingin jadi dokter
  • Saya mau jadi direktur
  • Saya mau punya bisnis sendiri
  • Saya mau jadi photographer
  • Dll..

Jika melihat jawaban-jawaban di atas, jangan kaget bila di pekerjaan Anda saat ini Anda tidak memiliki banyak waktu, bukan bekerja di Bank yang Anda inginkan, tidak mendapatkan uang sebanyak yang Anda inginkan dan bisnis tidak sesukses yang Anda pikirkan. Mengapa? Menurut saya, mungkin Anda belum pernah benar-benar memikirkan apa yang Anda inginkan, hanya ingin sekedar bekerja. Lalu, tidak memfokuskan diri bagaimana Anda bisa memberikan kontribusi di lingkungan Anda, yang penting Anda bekerja. Jadi, gak heran kan mengapa Anda bisa merasa tidak bahagia dengan pekerjaan Anda.

Work vs. What you do

Saya lebih suka ketika orang barat menanyakan pekerjaan Anda. Mereka tidak bertanya, ”Kamu kerja apa?” melainkan ”What do you do?” – ”Apa yang Anda lakukan?”. Pertanyaan ini langsung fokus kepada nilai-nilai dari hal yang Anda lakukan, apa itu melayani, mempromosikan suatu barang atau jasa sampai membantu orang lain mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan.

Jarang sekali saya bertemu dengan orang-orang yang benar-benar mencintai apa yang mereka lakukan setiap harinya, sampai merekapun tidak merasa bahwa itu adalah ”kerja.”. Yang manakah diri Anda saat ini?

Anda berhak dan patut mendapatkan pekerjaan Anda saat ini

Banyak orang berkata bahwa mereka ”tidak memiliki pilihan” atas pekerjaannya saat ini. Banyak alasannya, seperti:

  • Dulu melamar di banyak tempat, tetapi diterimanya di sini
  • Inginnya jadi yang lain, tapi tidak disetujui orang tua
  • Sebenarnya sih enak, tapi bosnya menyebalkan
  • Pekerjaannya menyenangkan, tapi anak buah saya kurang terampil
  • Tidak punya pilihan lain, saya harus bekerja untuk menghidupi keluarga

Dan banyak lainnya….

Tetapi, bisakah Anda melihatnya dari sisi yang lain? Bahwa, bila Anda tidak memiliki pilihan lain, berarti Tuhan sendiri yang telah memilihnya untuk Anda, dan karena Ia yang memilihnya, maka itu adalah pilihan yang terbaik untuk Anda. Sering kali kita mendapatkan apa yang kita butuhkan dan belum tentu apa yang kita inginkan. Daripada berterimakasih, kita lalu cenderung mengeluh dan merasa telah ditipu dan merasa lebih berhak untuk hal lain.

Padahal, jika Anda telah mempelajari Hukum Ketertarikan (Law of Attraction) maka sebenarnya Anda sendiri yang menyebabkan diri Anda untuk mendapatkan pekerjaan dan situasi di pekerjaan Anda saat ini.

Hard Work vs. Work Hard

Tahukah Anda bedanya “Hard Work” dan “Work Hard”? Agak sulit ditranslasikan dalam bahasa Indonesia, tetapi saya akan coba menjelaskannya.

Hard Work artinya melakukan pekerjaan yang dirasakan sangat sulit dan membebankan. Mungkin Anda hanya berada di kantor dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore, tetapi tingkat stresnya sangat tinggi sehingga Anda cenderung mengamatinya dengan negatif dan tidak sabar untuk langsung pulang atau mencari aktifitas lain.

Work Hard artinya melakukan pekerjaan yang tidak terasa seperti bekerja. Mungkin Anda harus tetap bekerja sampai jam 2 pagi dan terus bekerja di akhir pekan, tetapi Anda benar-benar menikmatinya.

Seperti kata Roger Hamilton, “If it feels like Hard Work, then you are already doing the WRONG thing!

Saya hanya ingin Anda mengingat kembali dan mencari tahu mengapa Anda bekerja? Bila Anda sedang merasa kebingungan atau sudah mulai jenuh, coba cari jawaban-jawaban untuk hal-hal dibawah ini:

  • Seperti mencari tujuan hidup, carilah alasan mengapa Anda bekerja. Pikirkan dengan benar, apakah Anda bekerja hanya untuk uang semata? Hanya untuk sekedar menghidupi keluarga Anda? Atau sebenarnya ada hal-hal lain?
  • Tanyakan diri Anda, kontribusi apa yang Anda bisa berikan untuk lingkungan Anda bekerja
  • Nilai-nilai apa yang Anda dapatkan dari pekerjaan Anda saat ini yang bisa membantu Anda untuk lebih berkembang sebagai makhluk hidup
  • Baru, apa yang Anda ingin capai dari pekerjaan ini, bukan hanya yang bersifat materi
  • Hal-hal apa yang menghambat Anda dari mendapatkan apa yang Anda inginkan?

Ingat, jangan mencari jawaban-jawaban yang reaktif. Lihatlah ke dalam diri Anda terlebih dahulu.

Bila Anda bisa mendapatkan jawaban-jawaban yang memuaskan diri spiritual Anda atas pertanyaan di atas, maka pekerjaan Anda bisa menjadi sesuatu yang bisa Anda nikmati setiap harinya. Bila tidak, mungkin ini sudah saatnya Anda pindah profesi atau kantor dimana Anda bisa lebih mengembangkan seluruh potensi Anda. Sehingga pertanyaan selanjutnya adalah, apakah Anda memiliki keberanian yang cukup untuk melakukan hal-hal tersebut dan memulai sesuatu yang baru?

Popularity: 17% [?]

Ask and Ye Shall Receive

August 5th, 2007 by aristiwidya

“Ask, and it shall be given you; seek; and you shall find; knock and it shall be opened unto you.”
[Matthew 7:7]

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya
malaikat pengawas yang selalu hadir.”
- Al’Quran Qaaf:018

“Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.”
- Al’Quran Adz-Dzaariyaat:023

Sudah dituliskan di berbagai Kitab bahwa apabila kita menginginkan sesuatu dalam hidup ini, maka mintalah kepada Yang Maha Kuasa. Kedengarannya seperti hal yang sangat mudah bukan, tetapi dalam prakteknya tidak semua yang kita inginkan benar-benar tercapai. It’s always easier said than done!. Kalau memang semudah itu, saya yakin semua orang di dunia ini mungkin lebih bahagia atau malah lebih serakah. Walaupun seperti itu, saya benar-benar percaya pada kata-kata tersebut dan dalam beberapa hal penting dalam kehidupan saya, sayapun sudah mendapatkan hal-hal indah yang saya memang inginkan. Pastinya, ada beberapa hal yang harus Anda miliki dan lakukan, seperti hal-hal di bawah ini.

Keyakinan & Kepercayaan

Langkah pertama dalam menginginkan sesuatu pastinya adalah keyakinan bahwa Anda bisa, mampu dan patut untuk mendapatkannya tidak lepas dari kepercayaan bahwa Yang Maha Kuasa itu Maha Pemurah dan Pengasih yang pasti akan memberikan hal-hal yang indah ke dalam hidup Anda. Dan, Anda tidak pantas memiliki keraguan sedikit pun bahwa hal ini pasti akan terjadi. Saya menuliskan kata “pasti” dan bukan “mungkin” karena sudah tidak adanya keraguan sedikitpun dalam diri Anda. Walaupun ini terlihat mudah, banyak hal yang dapat menantang keyakinan kita, dan ini butuh kesadaran dari diri Anda yang paling dalam

Kesabaran

Semua itu butuh proses. Manusia pun butuh waktu sembilan bulan untuk menjadi makhluk yang sempurna, maka jangan pernah menuntut untuk menjadikan apa yang kita inginkan itu menjadi segera. Pada saat yang tepat nanti, saat dimana kita paling membutuhkan, anugrah itu akan didatangkan. Ini adalah suatu proses latihan untuk kita untuk terus yakin dan percaya tidak hanya kepada Tuhan ataupun kekuatan besar yang ada di alam semesta ini, tetapi juga kepada diri kita sendiri, bahwa kita mampu menunggu dan terus berusaha. Karena, ujung-ujungnya tidak ada hasil tanpa usaha kan?

Fokus

Usaha apa? Anda bertanya. Usaha untuk terus dapat memfokuskan diri kepada hasil akhir yang Anda inginkan, termasuk untuk terus melakukan hal-hal yang kita lakukan secara konsisten dan penuh energi setiap harinya seperti pertama kalinya Anda menginginkan hal itu terjadi. Ingat benar-benar apa yang anda inginkan dan terus visualisasikan setiap harinya secara lebih mendetil. Bayangkan saja betapa cepat pekerjaan yang Anda lakukan bila Anda terus fokus, atau bagaimana sasaran Anda bisa tepat target ketika melepaskan anak panah bila anda sangat fokus. Ketika berjalan-jalan ke tempat yang baru, Andapun tidak akan mudah tersesat bila Anda terus fokus. Jadi, masuk akal bila Anda terus memfokuskan diri kepada apa yang Anda inginkan setiap harinya.

Ingin vs. Butuh

Dan jangan langsung bersedih hati bila Anda tidak mendapatkan sesuai dengan apa yang Anda inginkan dan pada waktu yang bukan Anda inginkan, karena hanya Yang Maha Kuasa yang tahu dengan pasti apa yang Anda butuhkan. Ini sebenarnya adalah caraNya memberitahukan Anda bahwa pilihanNya adalah pilihan yang lebih baik untuk Anda. Seperti yang disebutkan dalam Hukum Membiarkan (Law of Allowing), biarkanlah hal yang terjadi itu terjadi, terimalah apa yang sudah diberikan, karena dengan itu Anda bisa mendapatkan ketenangan. Juga dalam Hukum Polaritas (Law of Polarity) bahwa dimana ada hal yang kurang baik pasti ada hal yang baik. Jadi, sekali lagi terus yakin, sabar dan fokus.

Maksud – Perwujudan (Intention – Manifestation)

Artinya seperti ini, apapun yang sudah dimaksudkan di alam semesta ini pastinya akan diwujudkan. Seperti biji jagung sudah dimaksudkan untuk menjadi tanaman jagung dimanapun ia ditanam dan janin manusi akan menjadi bayi dalam waktu sembilan bulan. Anda hanya perlu menanamnya. Semuanya dimulai dari pikiran dan benak Anda, Anda harus mempunyai maksud jelas yang Anda komandangkan ke alam semesta, agar semua energi di alam semesta dapat mendengar apa yang Anda inginkan. Lalu menanamkan maksud ini terus menerus di dalam benak Anda mengikuti Hukum Ketertarikan & Getaran (Law of Attraction & Vibration) agar Anda terus mengeluarkan frekuensi yang memanggil frekuensi lain yang sama. Di sini empat hal yang sudah disebutkan diatas sangat perlu dilakukan terus menerus, karena Anda tidak ingin getaran yang Anda keluarkan menurun, karena bisa membingungkan alam semesta. Lalu, milikilah maksud yang mulia, artinya tidak merugikan siapapun juga, karena Hukum Karma itu juga ada.

Sebagai rangkuman, mulailah hari ini untuk mengumandangkan apa yang Anda inginkan, jangan hanya memintanya saja. Contohnya jika Anda menginginkan promosi di pekerjaan Anda, jangan hanya mengucapkan dalam doa “Ya Tuhan, saya benar-benar menginginkan promosi di kantor. Tolong bantu dan berkati saya supaya saya mendapatkannya.” Tetapi, katakanlah dengan maksud yang lebih kuat, “Ya Tuhan, saya bermaksud untuk mendapatkan promosi di kantor dan menjadi manager marketing yang handal. Jadikanlah ya Tuhan” karena Anda sudah tidak memiliki keraguan bahwa itu akan terjadi.

Mengutip dari Steve Pavlina lagi, saya menggunakan kalimat ini setiap saya menginginkan sesuatu terjadi:

Dengan cara yang relax dan mudah, dengan cara yang sehat dan positif, pada waktu yang paling tepat dan untuk segala kebaikan, saya bermaksud untuk mendapatkan _________________ dalam hidup saya. Jadikanlah ya Tuhan dengan segala kebesaranmu. Amin.

Saya menuliskannya di hp saya, karena saya membawanya kemanapun saya pergi dan membacanya sedikitnya tiga kali dalam satu hari: setelah doa pagi, di siang hari dan malam sebelum tidur. Dan ini yang terus memotivasi saya untuk tidak menyerah.

Popularity: 12% [?]