What makes you feel alive?

July 6th, 2010 by aristiwidya

Apa yang membuat kamu merasa hidup kembali? Sesuatu yang membuat kamu merasa hidup ini menjadi berarti? Lelah dan penat pun seperti tidak terasa karena di akhir hari, kamu merasa sangat fulfilled. Kamu merasa, inilah saya diciptakan, untuk melakukan ini.

Pernah merasakan hal seperti itu? Atau memang belum pernah? Jika pernah, kamu termasuk orang yang beruntung. Jika belum, well, then.. mudah-mudahan kamu merasakannya soon. Untuk apa hidup bila kamu tidak merasa hidup, bukan?

Bagi saya hal ini terjadi ketika dan setelah saya mengajar ataupun menulis.

Contohnya, hari ini saya diberi kesempatan untuk mengajar 20 peserta yang masih berusia 20 tahun-an awal. Kebanyakan baru lulus S1 dan terlihat mereka memiliki ambisi dan antusiasme yang sangat tinggi.

Kondisinya, malam sebelumnya saya hanya tidur 3 jam dan saya baru dapat kesempatan mengajar di malam hari, yaitu dari jam 7-11 malam. Hmm, tantangan yang menarik. Saya suka tantangan.

Jam 7 mulai.

Tiga jam berlalu, saya pun tidak menyadarinya. Saya tetap melihat ke jam dinding di depan saya untuk memastikan saya selalu on-time. Selama tiga jam saya bercuap-cuap, tertawa bersama peserta, bertanya dan menjawab berbagai pertanyaan menarik dan mendiskusikan berbagai topik. I had such a great time.

Tiga jam berlalu, kelas selesai. Saya tidak ingat sebenarnya saya mengatakan apa saja selama 3 jam terakhir. Saya hanya bisa berharap itu bermanfaat untuk para peserta dan mereka had as much fun as I did.

Ketika mengamati mereka yang sedang membereskan barang-barangnya, I fell in love with them.

Saya melihat sebuah energi baru dari teman-temanku yang baru ini. Saya melihat how beautiful they are. Saya melihat individu-individu positif yang penuh dengan potensi. Mereka telah membuat saya tertawa dan menikmati pekerjaan saya. Saya sangat berterima kasih kepada mereka. Saya hanya bisa tersenyum.

Badan saya rasanya rontok, muka penuh minyak-minyak, telapak kaki yang membutuhkan pijat refleksi, tetapi hati ini rasanya sangat penuh. Yet, I feel so alive. I feel love. I am in love. I’m not sure with what. But this is the feeling that I want to feel everyday.

Maybe, mungkin, ini yang mereka sebut Passion.

What is it that make you feel and come alive?
What is it yang membuat jantungmu berdetak sedikit lebih cepat?
What is your passion?

Watch and listen to your heart. Perhatikan dan dengarkan jantung dan hatimu. Kapan ia merasa lebih hidup? Ikuti dentuman jantungmu karena ia akan membawamu ke tempat-tempat baru yang kamu cuma bisa bayangkan sebelumnya.

If there is no passion in your life, then have you really lived? Find your passion, whatever it may be. Become it, and let it become you and you will find great things happen FOR you, TO you and BECAUSE of you.
- T. Alan Armstrong

Just for today

Dengarkan detak jantung dan hati kamu. Aktivitas-aktivitas apa yang membuat kamu merasa hidup? Bila belum menemukannya, coba hal-hal baru. Heck, coba berbagai hal-hal baru, coba semuanya, sampai kamu merasakan detak jantung tersebut.

Popularity: 3% [?]

How to get EVERYTHING you want…

May 27th, 2010 by aristiwidya

Saya mau punya apartemen sendiri tahun ini. Saya mau meningkatkan karir saya. Saya mau trekking ke Kathmandu. Saya mau turun 10 kg. Saya mau bertemu my prince charming. Saya mau kembali sekolah lagi. Saya mau bahagia. Ini adalah berbagai hal yang orang inginkan setiap harinya…

Setiap tahun, kita pasti memiliki keinginan. Dan yang namanya manusia, setiap tahun keinginan itupun semakin banyak (Banyak Maunya – BM). Saya rasa, tidak ada yang salah memiliki banyak keinginan, tujuan maupun target. Itu semua yang memicu kita untuk membentuk kehidupan yang lebih baik bukan? Pertanyaannya: Bisakah kita mendapatkan semua yang kita inginkan?

You will get everything you want when you BECOME everything you want.

howtogeteverythingyouwantThen, saya menemukan kutipan ini: “Kamu baru akan mendapatkan semua yang kamu inginkan, ketika kamu menjadi orang yang kamu inginkan.”

Jujur, rasanya seperti agak ditampar sedikit dengan sebuah ciuman manis. It’s so true!

Selama ini rasanya saya pun lebih banyak fokus ke hal-hal yang saya ingikan dibandingkan diri saya sendiri. Memang saya tahu apa kekuatan dan kelemahan diri saya, tetapi memang jarang saya menanyakan ke diri saya sendiri, “Saya ingin menjadi orang seperti apa?” – nilai-nilai seperti apa yang saya ingin miliki dalam karakter dan kepribadian saya? Wow!

It’s not about what you do, but about who you are. Because who you are will be reflected in everything that you do.

Saya realize, semua bukan tentang hal-hal yang saya lakukan tetapi tentang siapa saya, karena siapa saya akan tercermin dalam setiap hal yang saya lakukan.

Saya terinspirasi untuk sekali lagi fokus ke diri saya terlebih dahulu, dibandingkan ke hal-hal duniawi lain yang saya inginkan. Saya ingin menjadi diri saya yang terbaik (the best version of me), seseorang yang benar-benar hidup berdasarkan nilai-nilai, seseorang yang walk the talk. If I learn anything this year, this is the year to walk to talk.

So, who am I? Siapa saya?

Saya lalu merumuskan nilai-nilai yang saya anggap sangat penting bagi diri saya dan menuliskannya dalam sebuah surat untuk diri saya sendiri. Kamu bisa membacanya di sini. Dan setiap kali saya membaca surat ini, sekali lagi saya terinspirasi dan termotivasi untuk terus menjadi diri saya yang terbaik. This is me! This is who I want to become.

This is what I want for 2010. Di tahun 2010 ini, walaupun sudah jalan 5 bulan, saya ingin menjadi diri saya yang terbaik. This is the year to focus on ME! Karena saya tahu, kalau saya bisa menjadi diri saya yang terbaik, saya pun akan mendapatkan semua yang saya inginkan dalam hidup :)

How? One day at a time. One value at a time.

Kalau kata teman saya, “I think I can. I believe I can. I know I can. I can. I am.” Kalau saya bisa melangkah 1 langkah saja setiap harinya, di akhir tahun ini saya sudah menjadi orang yang jauh lebih baik dari saya hari ini. Tetapi, let’s not get ahead of ourselves. Saya mulai dengan hari ini. Hari ini, saya sudah satu langkah lebih maju.

Now, my friends, kamu sudah tahu kamu ingin jadi orang seperti apa? Let’s suit up! Tell me who YOU want to become…

Popularity: 9% [?]

Jakarta Mencari Cinta

May 20th, 2010 by aristiwidya

Jika kamu tinggal di Jakarta, kamu pasti tahu bahwa Jakarta bukan tempat yang mudah untuk mendapatkan cinta. Bukan cinta semalam, bukan cinta segitiga ataupun cinta semata. Tetapi true love. Cinta dengan suatu kualitas yang dicari setiap orang, terlebih kalau kamu termasuk the single 30-somethings.

lovePembicaraan sepulang kerja, dipojokan bar favorit diantara empat wanita pun, yang dimulai dari pekerjaan dan keluarga akhirnya mengerucut menjadi tentang cinta. Sambil meneguk minuman favorit masing-masing, bergantian kita bercerita. Satu baru mulai jatuh cinta. Satu baru saja kembali patah hati. Satu bingung mau dibawa kemana cinta-nya. Dan, yang satu, baru saja punya crush dengan seseorang yang baru dikenal. Diskusi malam itu menjadi “so, what would love do?” – apa yang cinta akan lakukan?

Love will bring out your best self.

Soul-mates are people who bring out the best in you. They are not perfect but are always perfect for you.” ~Unknown

Yang sedang jatuh cinta glows - dia bersinar. Ia pun tidak ingat kapan terakhir Ia bersinar. Semua yang melihatnya pun mengakuinya. It is very electric. Lucunya, cinta telah membuat dia jatuh cinta kepada dirinya terlebih dahulu: Ia lebih rajin pergi ke gym, Ia makan lebih sehat, ia lebih terbuka kepada orang lain, Ia pun lebih pe-de. Selanjutnya, she is in so much joy, sehingga “keberuntungan” pun mulai mendatangi dirinya. Berbagai job offers baru pun Ia dapatkan. Ia banyak bertemu orang-orang baru yang mengagumkan. Ia pun menjadi lebih berani dalam mengambil resiko. Wow! Dia mengatakan, “yang terbaik adalah, dengan dia.. I can be myself.” Cinta membuat dirinya nyaman dengan dirinya sendiri. Cinta membuat dia nyaman mencoba hal-hal baru, seperti rasa takut itu tidak ada. Memang, tidak ada hal yang pasti, tetapi cinta membuat dia merasa nyaman, berani dan hidup – cinta telah menjadikannya a better version of herself. That’s when you knowRead the rest of this entry »

Popularity: 13% [?]

Are we human or are we dancers?

April 29th, 2010 by aristiwidya

Just for today: dance!

And I’m on my knees, looking for the answer.
Are we human, or are we dancers?

- Human, The Killers

dancerAs the question continues in my head, I wonder, am I human or dancer? Do I have to be either or or? Am I not both?

In each of us exists a being. And I also believe, in each of us exists a dancer. With that said, what differentates a human being and a dancer? In my book, this is how I define them.

Human.
Vulnerable beings trapped in a worldly world, bound my emotions, desires and expectations. Thus, we always say that “We’re only human” – because we’re leaving spaces for mistakes and imperfections.

Dancers.
Inspiring beings, so connected to the music and rhythm of life that they not bound by emotions, desires nor expectations. They feel and express feelings with all of their being, do things with full energy and commitment, do not worry about what the audience feel about their performance — because all they care is to create, express and their own feelings when they dance.

In some ways, this is why people are always attracted to and mesmerized by dancers. And when you begin to observe many dancers, you realize that those you love most are not the ones who have the best technique, but those who are so into the dancing themselves. You can see their passion in their eyes and movement – even if it’s just a flick of a finger. It’s like energy radiating so bright that even though you sit 50 rows behind, you can still feel their emotion. At times, you also realize that you’ve held your breath from watching them. They are that hypnotizing.

So, as I grow with this life, I watch myself. I sometimes catch myself being a human and other times being a dancer. I have danced through this life may it be in rain, thunderstorm, darkness and even on sun shine, beaches and heaven. And at times, I have let myself just to be human – to be drowned in emotions, desires and expectations.

When I’m dancing through this life, that’s when I feel most alive – the feeling of being connected to every bits of life. Joy and enthusiasm fill my being. Energy is flowing. Though the body is tired, the soul is rejuvenated. It’s the feeling of being in love for no reason at all – just for being alive itself. Everything I do seem effortless. I don’t have the need to control, judge or change anything. I feel free. The soul is filled with gratitude. I am lost for words. And the only thing I can do is smile. I am the luckiest girl alive indeed.

When I let myself be human, that’s when I feel vulnerable. The feeling of having no control over anything. I feel lost and without direction. That’s when I feel is the hardest to trust and have faith in things. I doubt. I think. I contemplate. I am without confidence. I question myself and this life. I find it hard to move. I find myself without energy and focus. I find myself just living in routines, trapped by responsibilities and expectations for myself and other people.

I’m not saying that one thing is better than the other, because I know we cannot appreciate one without realizing the other. So I’ve embraced both the human part and the dancer part of me. I’m giving myself time to be human for some time and be a dancer at other times.

So, are we human or are we dancer? We are both my friends. Though we are born human, learn to be a dancer in this life. And one day this life and we shall be the dance itself.

Like Osho said, “Life should be a dance; it can be a dance, it is meant to be a dance. That’s my message: love life, and with such intensity, with such fire, that you can reach to the optimum of your being.

So, my friends. Let’s be dancers with such fire. Even though, at the end, I learn that what makes us great such dancers are because we are human.

Popularity: 14% [?]

Sudahkah Anda Bersyukur? Apa Buktinya?

September 16th, 2009 by aristiwidya

Life in abundance comes only through great love” – Elbert Hubbard

Serving other people may be a way for you to show the universe
that you are grateful for everything you have received
by sharing your abundance with others.

abundanceMelayani sesama atau orang lain adalah suatu cara kita menunjukkan kepada dunia bahwa kita bersyukur atas segala yang telah kita terima dengan membagi rasa berlebih kita dengan orang lain.

Saya perhatikan, disaat-saat saya malas tersenyum, segan membantu orang lain, merasa tidak tulus ataupun tertekan, itu adalah saat-saat saya sedang merasa “kekurangan”. Dengan berjalannya waktu, saya belajar bahwa kita adalah “abundance being” – makhluk yang penuh dengan segala kelebihan. Semua yang kita butuhkan saat ini sudah ada di dalam diri kita sendiri ataupun sudah disiapkan di dunia ini. Semua yang ada di dunia ini cukup untuk semua, termasuk untuk diri kita sendiri. Sayang, terkadang kita suka lupa ataupun tidak percaya.

Ketika saya memulai mempercayai bahwa saya adalah “abundance being” – bahwa saya tidak kekurangan apapun juga baik cinta, kasih, materi dan harta, maka lebih mudah bagi saya untuk melayani.

Di bulan Ramadhan ini, saatnya untuk merefleksikan diri. Apakah saya selalu memberikan yang terbaik? Apakah saya siap untuk melayani? Apakah saya tulus dalam melakukan suatu kegiatan? Apakah senyum selalu terpampang di wajah saya? Bila tidak, mungkin saya belum terlalu bersyukur. Berarti saya belum mempercayai bahwa Tuhan telah menciptakan saya sebagai “abundance being.”

Bersyukur tidak cukup hanya diungkapkan dengan kata-kata, tunjukkanlah dengan tindakan berbagi dengan orang lain. Baik itu berupa senyum, sapa, kasih, bantuan maupun kemampuan untuk mendengarkan.

Ini saatnya berbagi “abundance” dengan orang lain.

Lose yourself in generous service and every day can be a most unusual day,
a triumphant day, an abundantly rewarding day
!”
- William Arthur Ward

**ditulis untuk Synergy Service Solution, www.synergy-id.com

Popularity: 21% [?]