Happiness: Life’s Most Important Skill
“If you want others to be happy, practice compassion.
If you want to be happy, practice compassion. “
- The Dalai Lama
Percaya tidak, kalau saya berkata bahwa “Kebahagiaan itu adalah sebuah ketrampilan, bukan sifat.” Memang ini bukan suatu paradigma baru, walaupun saya baru benar-benar menyadarinya belakangan ini. Sampai Dalai Lama pun mengatakan “PRACTICE” – artinya ada yang harus dilatih bukan?
Mari kita bandingkan. Banyak orang yang ingin menjadi seorang pedansa, penyanyi ataupun pembicara yang unggul. Dan, ketika kita bertemu dengan berbagai macam orang, sering kita berkata bahwa seseorang lebih unggul dari yang lain – lebih berbakat. Beberapa orang memang sudah terlahir memiliki bakat untuk menjadi seorang pedansa, penyanyi ataupun pembicara… sementara diri kita lainnya tidak terlalu berbakat. Padahal, saya percaya sama guru dansa saya waktu kecil, bahwa sukses adalah 10% bakat dan 90% kerja keras / ketrampilan.
Nah, menurut saya mendapatkan kebahagiaan sama seperti ingin menjadi seorang pedansa, penyanyi ataupun pembicara yang unggul. Ada beberapa orang yang dari lahirnya sudah sangat bahagia dan tenang… dan banyak dari kita yang sepertinya sangat sulit untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut.
Di sini saya bukan membahas kesenangan sesaat ataupun kebahagiaan yang datang ketika kita mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, tetapi kebahagiaan murni yang datang dari dalam, apapun yang terjadi dalam hidup ini. Sesuatu yang tidak terlalu mudah untuk dicapai di dalam kehidupan yang sangat kompetitif, materialistik dan penuh dengan polusi
. Tapi, tidak ada salahnya mencoba kan?
Banyak orang yang mengatakan:
- Saya tidak pantas untuk bahagia
- Kebahagiaan saya naik turun, kadang bahagia – kadang tidak
- Sangat sulit bagi saya untuk terus bahagia…
- Walaupun di luarnya saya tampak bahagia, di dalam saya sedih
- Saya ingin bahagia, tetapi selalu saja banyak kejadian-kejadian yang membuat saya sedih dan kecewa
Jujur.. saya pun sering mengatakan hal-hal tersebut, sampai saya percaya bahwa Kebahagiaan itu adalah Ketrampilan. Kalau kita sudah tahu caranya untuk menjadi bahagia, tinggal dilatih terus menerus… lalu seperti naik sepeda, pasti sudah menjadi kebiasaan sehingga tidak pernah lupa lagi caranya.
Nah.. sekarang tinggal bagaimana caranya?
Sebelumnya saya ingin bertanya kepada Anda:
- Ingat pertama kali Anda ingin belajar menyetir mobil (atau fotografi, design, dansa, menjahit, dll – pilih satu)? Berapa lama yang Anda butuhkan untuk menjadi benar-benar handal?
- Berapa sering Anda berlatih?
- Berapa lama berlatihnya?
- Perasaan seperti apa yang Anda rasakan ketika Anda sedang berlatih?
- Apakah Anda langsung berhasil? Atau banyak pelajaran-pelajaran yang Anda dapatkan di tengah jalan?
- Ketika Anda gagal ketika sedang belajar, apakah Anda menyalahkan diri Anda sendiri? Atau Anda merasa itu sebagai suatu pelajaran?
Jawaban-jawabannya menjadi suatu panduan dalam jalan menuju kebahagiaan ini:
1. Tidak Ada Jalan Pintas (Short Cut)
Untuk bisa menyetir dengan baik saja membutuhkan sedikitnya 3 bulan untuk bisa membentuk semua motor skills untuk bisa automatic. Belum adanya pengetahuan tentang lalu lintas dan tes-nya. Belum lagi kita harus selalu sadar (aware) ketika sedang mengemudi. Yang sebelumnya kita tidak bisa mengemudi sambil mendengarkan musik, sekarang mengemudi sambil makan, minum dan sms (hahahahahah – hayooo).
Semuanya butuh proses. Nah, sama seperti ketrampilan untuk mencapai kebahagiaan. Latihannya tidak mungkin bisa hanya seminggu dua minggu. Berikan diri Anda sedikitnya 3 bulan untuk melewati proses ini.
2. Sering Berlatih
Ingat ketika Anda ingin belajar naik sepeda? Betapa semangatnya Anda? Pulang sekolah pasti langsung berlatih. Sama juga ketika ingin mengemudi mobil. Selalu minta ijin orang tua untuk pinjam mobil :p. Sepertinya kita tidak pernah lelah untuk berlatih. Lalu, lebih cepat untuk berhasil ketika ada gurunya bukan? Dan kita sangat tidak sabar untuk cepat bisa, walaupun jatuh, nabrak, kita pun tidak cepat menyerah.
Untuk melatih kebahagiaan ini, berlatihlah setiap hari. Enaknya, latihan ini bisa dilatih setiap saat atau kapanpun Anda bisa menyisakan waktu. Intinya, siapkanlah waktu setiap harinya untuk kebahagiaan ini.
3. Konsisten dan Pantang Menyerah
Dalam proses pembelajaran ini pun, pasti masih ada hari-hari dimana kesabaran dan kebahagiaan Anda akan di-tes. Jangan khawatir. Naik sepeda saja yang sudah unggul masih bisa jatuh kok. Yang pasti jangan sedih, itu lumrah. Asal Anda tahu bagaimana untuk kembali naik ke atas sepeda dan mengayuh kembali dengan senyum, Anda sudah berhasil.
Ketika saya mempelajari proses ini pun, saya sering tersandung. Untungnya, setelah itu saya sadar. Oh iya, tadi saya lemah/salah – maklum namanya juga belajar – lalu mencoba kembali ke dalam jalur.
Ciri-ciri orang Bahagia
Apa ciri-ciri orang yang bahagia? Berikut saya tuliskan beberapa, agar kita mudah mengenali diri kita sendiri ketika mengukur kebahagiaan diri kita sendiri (tidak dalam urutan tertentu)
- Tidak komplain/menggerutu >> Ia berterima kasih dan bersyukur.
- Tidak mencoba membela pendapatnya, walaupun benar >> Ia tersenyum dan memahami orang lain.
- Tidak menyalahkan situasi, orang lain ataupun diri sendiri >>Ia hanya belajar dari pengalaman tersebut dan let go…
- Tidak mengkontrol situasi >> Ia menjadi team-player yang baik.
- Tidak lesu dan kusam >> Ia berbinar dan selalu memiliki energi.
- Tidak emosional/moody/pemarah/depresif (terlalu bersemangat ataupun terlalu bersedih) >> Ia senantiasa tenang
- Tidak menghakimi orang lain (judging) >> Ia merasakan bahwa semua orang itu sama; sejahat-jahatnya orang lain, esensi orang tersebut adalah sama, yaitu makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna.
- Tidak gelisah/khawatir >> Ia tahu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia tahu bahwa pasti ada pesan/pelajaran dari kejadian tersebut. Segala sesuatu pasti ada jalan keluarnya. Ia bisa melihat segala sesuatu dari segi positifnya.
- Tidak meratapi nasib >> Ia tahu bahwa nasibnya adalah ciptaannya sendiri dan ada di tangannya sendiri untuk mengubahnya.
- Tidak mendendam >> Ia mudah memaafkan orang lain.
- Tidak takut akan apapun >> Ia tahu bahwa Tuhan selalu melindungi dan mendukungnya. Ia berani mencoba hal-hal baru.
- Tidak terikat pada apapun (mau itu benda material ataupun orang-orang yang dicintai). Ia tidak bersedih berkelamaan ketika sesuatu yang disayangi/dicintainya rusak/hilang/tidak ada lagi >> Ia tahu bahwa semua yang ada di dunia ini sifatnya sementara
- Tidak menyesali apapun yang terjadi >> Ia tahu bahwa semuanya yang terjadi adalah pelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik, untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi.
- Tidak cepat lelah >> Ia selalu menjaga keseimbangan dalam hidupnya, baik itu dari segi nutrisi, istirahat maupun spiritual.
- Tidak menunda >> Ia selalu memiliki komitmen kepada diri sendiri dan orang lain.
- Tidak terbawa situasi >>Ia mampu melihat situasi dari berbagai sisi.
- Tidak merendahkan/meremehkan orang lain >> Ia merasa bahwa semua orang memiliki potensi yang sama dan ketika diberi kesempatan pasti bisa berhasil. Ia percaya dengan kemampuan setiap orang yang ditemuinya.
- Tidak menunggu hal-hal besar >> Ia menikmati segala hal-hal kecil yang terjadi dalam kehidupannya saat ini.
- Tidak fokus kepada masa lalu ataupun masa depan >>Ia fokus kepada saat ini. Ia menikmati saat ini. Walaupun ada dalam situasi yang tidak menyenangkan bagi orang lain pun, Ia bisa menikmatinya.
- Tidak menyimpan kesedihan, kemarahan maupun kekecewaan >> Ia melepaskan segala hal yang terjadi dalam kehidupannya (Letting go).
- Tidak pemalu, minder ataupun menutupi apapun >> Ia bersifat apa adanya dan bangga atas segala hal yang telah diberikan kepadanya.
- Tidak membutuhkan perhatian/apresiasi/pujian >> Ia tahu bahwa semua kesuksesannya adalah karunia Tuhan dan berkat bantuanNya. Ia mendedikasikan pekerjaan dan usahanya untuk orang lain.
- Tidak menyia-nyiakan apapun >> Apapun kesempatan yang diberikan kepadanya, akan digunakan sebaik-baiknya.
- Tidak pelit >> Ia berbagi segala harta, ilmu, pengalaman dan berkahnya dengan orang-orang di sekitarnya tanpa batasan.
- Tidak kelabakan >> Ia bisa menyeimbangkan segalanya. Ia tahu bahwa ada waktu untuk apapun.
Itu adalah hal-hal dimana Anda bisa mengukur sendiri kebahagiaan Anda di setiap hari-hari Anda. Di akhir hari Anda, lihatlah hari Anda. Apa yang Anda rasakan/lakukan di hari tersebut. Dimana level kebahagiaan Anda?
Penasaran kan bagaimana caranya? Supaya Anda bisa terus merasakan/melakukan hal-hal tersebut secara konsisten? Well, tunggu artikel selanjutnya… (supaya tidak kepanjangan
)
Popularity: 7% [?]
