Salesperson Yang Unggul
Minggu lalu saya jalan-jalan ke pasar kain, memang karena saya hobi ke pasar dan hobi menjahit. Yang pasti, di hari itu saya sangat kagum karena hampir dari semua toko yang saya kunjungi, semua menunjukkan service excellence dan keunggulan dalam menjadi seorang salesperson. Padahal di pasar… kok bisa?
Saya sedang mengantar teman saya yang sedang mencari bahan untuk bikin jas pernikahan adiknya. Karena saya terbiasa beli bahan, jadi dengan senang hati saya antar. Berikut adalah hal-hal yang kami alami.
1. Siap Membantu
Kami masuk ke salah satu toko bahan, dan si bapak yang menunggu sedang makan siang, makan padang untuk lebih tepatnya. Ketika saya sapa, “siang pak”.. Ia langsung terburu-buru berkata “eh, siang mbak.. silakan… sebentar, saya cuci tangan dulu ya…” Padahal saya sudah bilang silakan saja makan dan saya hanya mau liat-liat, eh si bapak malah buru-buru membungkus makanannya dan mencuci tangannya dengan air aqua di sampingnya. Ada kali 20 detik selesai. Benar-benar cepat.
Sambil mencuci tangannya, ia bertanya “Sedang mencari apa mbak?” Saya jawab: bahan hitam wool. “Yang 100% wool atau semi-wool?” Yang 100%. “Saya ambil sebentar ya mbak, tunggu di sini.” Ia pun kemudian berlari entah kemana dan kembali dalam waktu kurang dari 1 menit.
2. Pengetahuan produk yang luar biasa dan bisa mengarahkan
Ia pun kembali dan menunjukkan bahan yang Ia bawa… ia bilang: “Ini yang 100% wool mbak, ini saya bandingkan dengan yang semi-wool, sambil meraih yang semi-wool. Kelihatan kan dari bahannya, ia lebih berat dan lebih berserat. Dan kalau pengen tahu asli atau tidaknya, kalau dibakar, ia akan bau seperti rambut yang terbakar. Untuk bikin apa mbak?”
Saya sebenarnya sudah tahu tentang bahan, tetapi luar biasa sekali ia bisa mengatakan seperti itu dan kemudian DIAKHIRI DENGAN PERTANYAAN. Wow!!!!!!!
Saya bilang, untuk bikin jas setelan pak. Lalu dia bilang: Wah, memang kalau untuk jas bagusnya pake yang wool 100%, tetapi tergantung kebutuhannya juga. Kalo wool yang 100% lebih susah merawatnya, karena harus di dry-clean dan pakenya juga harus jarang-jarang.. karena harus dirawat. Kalo semi-wool, enaknya dipake selama 2-3 hari juga gak papa. Dan bisa dicuci sendiri di rumah, gak perlu di laundry… Memang jasnya untuk keperluan apa?
Sekali lagi… LUAR BIASA… karena tidak hanya menjelaskan keunggulan dan kelemahan satu sama lain tanpa merendahkan semua produknya, ia pun terlihat sangat profesional. Dan sekali lagi DIAKHIRI DENGAN PERTANYAAN.
Untuk kawinan pak, kawinan adeknya. “Kalo gitu, saya anjurkan pake yang wool memang, lebih berkualitas… lagipula biar sesuai sama ongkos jahitnya.. yang mungkin bisa sampai 1 jutaan sekarang. Tapi, kalo untuk kantoran, dipake bikin celana biasa sehari-hari, pakai yang semi-wool aja… Jadi, mau yang semi-wool atau wool 100%?”
Disitu “I am sold!!!” Terus terang, sudah gak terlalu peduli harganya berapa saat ini… karena saya tahu yang dibutuhkan adalah yang wool 100% walaupun harganya hampir 2x lipat yang semi wool… hebat ya? Saya sudah tidak terpaku oleh harga lagi.
3. Up-sell
Sambil membuka lipatan kain, si bapak berkata… “Untuk bikin jas 1 stel kan? Untuk masnya sih hanya butuh 2.5 meter, tapi saya anjurkan bikinnya 1 jas dan 2 celana, karena celana cenderung lebih cepat lusuhnya karena lebih sering dipakai. Lalu celananya yang dijahit 1 saja dulu, baru nanti ketika dibutuhkan baru jahit yang ke-2… Supaya masnya tetap punya bahannya.”
“Mbaknya cari apa? Kemarin ada designer ke sini beli bahan yang ini dan yang ini untuk bikin celana. Sekarang kan lagi tren ya mbak ya… Pasti dijualnya mahal banget tuh. Mbaknya suka yang seperti apa?”
Mau jatuh cinta gak sih sama si bapak ini? Hebat sekali mengarahkannya….
4. Garansi
Setelah memilih beberapa bahanpun, ia tidak lupa memeriksa bahannya terlebih dahulu. “Ini mbak, dilihat ya… 3 meter dan tidak ada yang rusak. Tapi nanti kalo di rumah ketemu ada bahan yang rusak, mbak balik aja sini lagi, nanti bisa ditukar dengan bahan yang lain. Jangan sampe mbaknya rugi bawa barang yang rusak ya…”
“Ini bon-nya. Disitu ada nama dan nomor telpon saya juga, jadi kalau ada apa-apa bisa dihubungi… Sukses pernikahannya ya mbak.”
———————–
Oh, saya jatuh cinta dengan si bapak tersebut. Sampe yang saya biasa nawar, saya relakan banget. Karena saya sudah jatuh cinta dengan si Bapak. Saya tidak perlu menjelaskan hal-hal apa saja kan yang membuat saya jatuh cinta?
Intinya, jika Anda selalu siap membantu, tahu produk tetapi juga bisa membuat pengalaman tersebut menjadi personal seperti si bapak ini dan pandai mengarahkan ke hal yang benar-benar saya butuhkan, maka si pelanggan pun tidak akan terpaku pada harga lagi, karena sudah sangat menyenangi Anda.
Kira-kira bisakah Anda menerapkannya dalam pekerjaan sehari-hari?
Popularity: 12% [?]
